0 Comment

Upacara-Adat-Suku-Sawu-Nusa-Tenggara-Timur

-Upacara Adat NTT-Postedby-BukanTrik-, Suku bangsa sawu atau sabu merupakan salah satu suku asli yang mendiami pulau sawu dan pulau raijua di provinsi nusa tenggara timur. Agama Kristen sudah masuk ke pulau sawu, tetapi masyarakatnya masih banyak memeluk kepercayaan asli.

Kupang merupakan ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki potensi sumber daya alam yang cukup melimpah. Mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen Protestan. Bila dibandingkan kabupaten lainnya di Pulau Timor, masyarakat Kupang sebenarnya jauh lebih heterogen. Suku-suku yang ada di Kabupaten Kupang inilah yang kemudian mewarnai adat istiadat budaya masyarakatnya

Ada beberapa upacara yang dilaksanakan sehubungan dengan kepercayaan asli ini antara lain:
  • Upacara menyembah deo mone Ae (dewa yang besar) Deo Mone Ae mempunyai 3roh yaitu pulodo wadu, roh yang mengatur musim kemarau, deo rai roh yang mengatur musim hujan, dan deo heleo roh yang mengawasi kehidupan manusia
  • Upacara kematian yang dipmpin oleh ratu mone pitu (imam yag berjumlah 7 orang) mereka menganggap roh-roh orang yang meninggal melakukan perjalanan dari dunia gaib dengan menggunakan ama piga laga ( perhu roh)
  • Upacara terhindar dari penyakit, penyakit dianggap muncul karena gangguan dari makhluk halus yaiut roh suanggi dan wongo, penyakit hanya dapat disembuhkan dengan cara melakukan upacara yang dipimpin oleh mone molara (dukun) Upacara-upacara yang berkaitan dengan mata pencaharian misalnya upacara memanggil nira, memasak nira, tolak bala, bersih lading,dan menanami lading

Upacara adat istiadat reba


Upacara Adat Reba merupakan upacara adat yang bertujuan untuk melakukan penghormatan dan ucapan rasa terima kasih terhadap jasa para leluhur. Upacara ini juga digunakan untuk mengevaluasi segala hal tentang kehidupan bermasyarakat pada tahun sebelumnya yang telah dijalani oleh masyarakat Ngada. Melalui upacara ini, keluarga dan masyarakat meminta petunjuk kepada tokoh agama dan tokoh adat untuk dapat menjalani hidup lebih baik pada tahun yang baru. Upacara ini diadakan setiap tahun baru, tepatnya di bulan Januari atau Februari.

Tuan rumah untuk upacara ini selalu bergiliran pada setiap tahunnya. Sehari sebelum perayaan Reba dimulai, dilaksanakan upacara pembukaan Reba (su‘i uwi). Pada malam su‘i uwi dilakukan acara makan minum bersama (ka maki Reba) sambil menunggu pagi.

Pada pagi harinya, ketika upacara berlangsung, para tamu disediakan makanan dan minuman yang sudah matang dan siap dimakan (Ngeta kau bhagi ngia, mami utu mogo. Kaa si papa vara, ini su papa pinu). Hidangan utama dalam pesta ini adalah ubi. Bagi warga Ngada, ubi diagungkan sebagai sumber makanan yang tak pernah habis disediakan oleh bumi. Karena itu, warga Ngada tidak akan pernah mengalami rawan pangan ataupun busung lapar.

Selama upacara Reba berlangsung biasanya diiringi oleh tarian yang mana para penari yang menggenggam senjata tradisional berupa pedang panjang (sau) dan tongkat warna-warni yang pada bagian ujungnya dihiasi dengan bulu kambing berwarna putih. (tuba). Sebagai pengiring tarian adalah alat musik gesek berdawai tunggal yang terbuat dari tempurung kelapa atau juga dari labu hutan.

Upacara adat istiadat Reba biasanya dilakukan tiga sampai empat hari. Sebelum pelaksanaan upacara tari-tarian dan nyanyian (O Uwi) diadakan misa inkulturasi di gereja yang dipimpin oleh seorang pastur atau romo. Dalam Beberapa rangkaian upacara juga diiringi dengan koors nyanyian gereja, dan menggunakan bahasa lokal Ngada. Upacara ini memang memadukan unsur adat dengan agama.

sedangkan Di luar gereja, suasana upacara adat istiadat bertambah meriah, ketika para penonton dan penari disodori satu dua gelas 4r4k (t04k ). Ini merupakan tradisi setiap orang Ngada yang hadir dalam upacara tersebut. Namun demikian, Reba tidak sekadar pesta hur4-hur4, tapi wujud kegembiraan (gaja gora) masyarakat Ngada dengan tetap menjaga nuansa rohani.

Upacara adat istiadat rebha


Upacara Rebha merupakan salah satu upacara persiapan upacara reba yang dilaksanakan pada pagi hari pertama sebelum kobe dheke. Upacara rebha dilaksanaan pada pagi hari di kebun atau diladang sebelum upacara persiapan berikunya yaitu tege kaju lasa. Rebha dilaksanakan untuk memohon berkat Tuhan melalui arwah leluhur agar tujuan tanaman (ngaza lima zua) tumbuh subur dan menghasilkan panen berlimpa. Tanama-tanaman tersebut adalah pare (padi), ha‟e (jagung), hae lewa (jagung solor), wete (jewawut) dan hobho (kacang-kacangan) tanaman ini di tanam didalam kebun atau ladang

Proses upacara rebha sebagai berikut ; Beberapa orang dari masing-masing suku /warga rumah adat berangkat dari sa’o (rumah adat) menuju kebun membawa serta parang, piso,seekor ayam kecil , satu buah kelapa muda yang masi kecil (nio boko) dan nasi. Dikebun mereka langsung menuju ke sebuah tempat didalam kebun yang bernama mata tewi , mata tewi merupakan sebuah tempat yang berukuran kira-kira 2x2 m.

Tempat persemayan uwi , pada keempat sudut kebun itu ditanami uwi, sedangkan di tengahnya tanam tanaman yang lain, sebelum melakukan penanaman bibit uwi seorang yang lebih tua mengucapkan semacam "manra zi’a ura manu" untuk menyatakan ujud pelaksanaan upacara

Setelah zi’a ura manu lalu ayam di potong dan di bakar dibelah untuk melihat isi perutnya, dan si pengucap mantra tadi harus melihat kondisi urat hati, empedunya.melalui pengamatan kondisi urat hati, dan empedu ayam akan tanpak petunjuk-petunjuk tertentu seperti akan terjadi kelaparan, tanaman tumbuh subur atau berhasil,dan lain-lain.

Setelah itu darah ayam dioleskan batu lanu dan daun-daun tanaman tadi yang dipetik dan diikat menjadi satu, kemudian salah seorang membakara ayam tadi dan yang lainya berjalan keliling kebun untuk rebha daun tanaman tadi dioleskan dengan darah ayam di celupkan kedalam buah kelapa muda setelah di lubangi bagian matanya, kemudian mereka berjalan keliling kebun memercik tanaman di seluruh kebun sambil beteriak lowa-lowa-lowa (lowa artinya bertumbuh terus) terakhir kelapa muda tadi di telingkupkan pada salah satu kayun patok teras kebun za’i/ulu kemudian mereka makan nasi serta daging ayam yang dibakar.

sebelum dimakan mereka harus memberikan sesajean kuwi bagi leluhur berupa nasi dan hati ayam. pada waktu kuwi /memberikan sesajian harus diucapkan mantra berikut :

Dia ine ema ebu kajo
Kami da puju kuwi
Ka papa fara inu papa pinu
Kami nenga raba go buku reba
Dhegha go buku ngata sili anan wunga


artinya :

ini para leluhur nenek moyang
kami memberimu sesajen
makanlah bersama ,minumlah bergilir
kami akan merayakan adat budaya reba
mengenang adat budaya sili ana wunga


Prosesi Perkawinan Adat Ntt


Rangkaian upacara perkawinan masyarakat Amarasi Kupang, Nusa Tenggara Timur, dimulai dengan acara perkenalan antar dua anggota keluarga yang akan berbesan. Sebelum kedua keluarga itu bertemu, biasanya keluarga calon pengantin pria terlebih dahulu akan mengirimkan utusan untuk datang ke rumah calon pengantin wanita guna bertemu dan berkenalan dengan anak gadis yang akan dipinang.

Pada kesempatan itu juga, utusan akan menyampaikan maksud hati keluarga Calon Pengantin Pria untuk segera meminang anak gadis tersebut. Setelah mendapatkan jawaban dari pihak keluarga Calon Pengantin Wanita, sang utusan segera pulang dan menyampaikan hasil pertemuannya kepada keluarga pengantin pria. Lalu mereka akan berunding untuk menetapkan waktu yang tepat untuk mengadakan pertemuan dua keluarga lagi guna membahas kelanjutan rencana acara pinangan.

Sebelum hari pinangan terlaksana, keluarga Calon Pengantin Wanita juga akan mengirimkan surat balasan kepada keluarga Calon Pengantin Pria berisi tanda kesediaan mereka menerima kedatangan keluarga Calon Pengantin Pria untuk meminang yang di dalamnya disertakan sejumlah syarat-syarat antaran yang mereka minta dan tetapkan.

Pada hari pelaksanaan pinangan, pihak keluarga Calon Pengantin Wanita akan menyiapkan perwakilan keluarga yang ditunjuk sebagai juru bicara dan dia bertugas menerima kedatangan rombongan keluarga CPP. Pada saat hari pinangan ini, rombongan CPP harus datang tepat waktu sambil membawa barang antaran yang sebelumnya sudah ditetapkan, biasanya sebanyak 5-7 baki/dulang yang dibawa oleh remaja-remaja putri, hal ini sebagai salah satu syarat untuk kelengkapan mas kawin.

Semoga Penjelasan Lengkap tentang "Upacara Adat Istiadat dan Kepercaraan Suku Sawu Nusa Tenggara Timur "Dapat bermanfaat terimakasih untuk kunjungan nya ke blog "BukanTrik " silahkan baca juga artikel lainya

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan sopan

 
Top