0 Comment
Nama Pakaian Adat Sulawesi Utara Pria Wanita dan Penjelasan lengkap

Nama-Pakaian-Adat-Sulawesi-Utara-Pria-Wanita-dan-Penjelasan-lengkap

-Pakaian Adat Sulawesi Utara-postedby-BukanTrik-, busana adat merupakan salah satu ciri dari peradaban budaya yang ada di nusantara dan yang akan di kupas di blog bukan trik kali ini seputar pakaian adat Sulawesi Utara, yang tentunya berhubungan dengan etnis (suku) yang menjadi peran utama dari sebuah peradaban.

Sulawesi utara di diami oleh empat suku sebagai penduduk asli dari Sulawesi Utara. Keempat suku penduduk asli tersebut diantaranya Suku bangsa Minahasa, Gorontalo, Sangir Talaud, dan Mongondow. Ke empat suku bangsa ini memiliki adat istiadat tersendiri, meski dalam beberapa hal terdapat kesamaannya. Begitu pun mengenai pakaian adatnya.

dalam hal berbusana setiap daerah memiliki ciri khas yang berbeda serta memiliki fungsi yang berada bukan hanya sebagai penutup aurat atau pelindung bagi tubuh tetapi juga ada makna lain di balik itu yang tentunya memiliki nilai sacral dan penting bagi si pemakainya diantaranya ada beberapa pakaian yang di gunakan / disesuaikan dengan kondisi dan acara acara tertentu yakni; pakaian adat untuk keseharian (sehari-hari ), pakaian adat untuk upacara adat , dan pakaian adat upacara perkawinan.

Karena Sulawesi utara didiami oleh bebera suku (etnis) yang tentunya setiap etnis memiliki ciri kha dalam berbusana dan menggunakan baju sebagai pakaian yang memiliki nilai –nilai yang sakral dan keagungan masing-masing

pakaian sehari-hari dari keempat suku bangsa penduduk asli Sulawesi Utara.


masyarakat Gorontalo, pakaian sehari-hari mereka berbahan mentah dari kapas atau biasa disebut molinggolo yang dipintal menjadi benang, dan kemudian ditenun alias mohewo. model pakaian yang di gunakan oleh kaum perempuan berbentuk kebaya dan tidak bermotif sedangkan pakaian adat untuk kaum laki-laki menggunakan kemeja lengan pendek. Sedangkan kain sarung dipakai oleh keduanya (laki-laki dan perempuan) serta memiliki motif yang khas motif.

Pakaian sehari-hari masyarakat Bolaang Mangondow pada jaman dulu dibuat dari kulit kayu dan serta nenas yang direndam air dalam beberapa hari .kemudian dipukul-pukul dan seratnya dibuka. Serat itu diebut lanut yang kemudian ditenun dan menjadi lembaran kain. Tapi hari ini kain yang terbuat dari serat lanut sudah tidak ditemukan lagi, karena masyarakat Bolaang Mangondow telah menggunakan pakaian berbahan katun (kapas) sebagai pakaian sehari-hari mereka.

Seperti halnya masyarakat Bolaang Mangondow, suku bangsa Minahasa pada jaman dahulu telah menguasai pengetahuan dan keterampilan membuat kain dengan memanfaatkan kulit kayu dan dari sisanya yang bisa disebut manilahenep. Akan tetapi sekarang sudah tidak ditemukan lagi pakaian dari hasil kerajinan tangan tersebut. Hanya ada sejenis pakaian laki-laki yang bernama bajang di beberapa tempat. Namun pakai adat sehari-hari itu telah menggunakan kain hasil produksi pabrik yang bisa dibeli di toko-toko kain.

Semenetara pakaian sehari-hari tradisional masyarakat Sangihe dan Talaud, yakni pakaian yang terbuat dari kain kofo dan dapat dikatakan kini sudah tidak ada lagi.

pakaian adat untuk upacara adat masyarakat Sulawesi utara


Pakaian upacara adat masyarakat Gorontalo berfungsi untuk melihat status sesorang dalam upacara adat. Para pemangku adat atau bate-bate mengenakan sandang dengan pola dan motif yang berwarna; berbentuk kemeja kurung, celana pendek sebetis kaki (batik) yang biasa disebut talola bate. Sementara Jubah putih atau sandaria dipakai oleh pemimpin agama. Dan jas hitam, celana hitam adalah pakaian pejabat keamaan. Apabila kepala-kepala desa memakai kemeja batik bentuk baju kurung, celana putih pakai sarung dan ikat kepala alias payungu, menandakan bahwa mereka siap menjalankan perintah (mahiya pada waumatihimanga motubuhe tahilio lo ito Eya)

Dalam upacara adat, suku bangsa Bolaang Mangondow memakai pakaian adat yang terbuat dari bahan mentah kain katun dan tetoron. Untuk pakaian laki-laki bisanya disebut baniang. Sementara untuk perempuan disebut salu, untuk dibuat jadi kebaya, sarung, dan selendang. Dalam upacara adat, laki-laki memakai destar semacam kain atau lenso yang diikat di kepala. Juga pomerus atau kain pelekat yang diikat pada pinggang. Sementara wanita memakai baju salu dengan pelengkap kain pelekat senket. Pada bagian dada dihiasi emas yang disebut hamunse.

Di Minahasa, pakaian upacara bagi laki-laki adalah jas (sepasang), dan atau cukup dengan memakai kemeja dengan pelengkap dasi. Bagi kaum perempuan pakaian mereka tidak lain berupa sarung kebaya atau yapon.

Bagi masyarakat Sangihe Talaud, seperangkat pakaian upacara yang biasa dikenakan terdiri dari baju panjang, ikat pinggang dan ikat kepala, dengan warna-warna dominan merah, hitam dan biru. Bentuk model pakaian tersebut hampir tidak terbedakan antara untuk laki-laki dan pempuan. Bentuknya menyerupai baju alian juhan yang disebut “laku tepu”, pembeda diantara pakai laki-laki dan perempuan hanya panjangnya, bagi laki-laki hanya samapai pertengahan betis.

Pakaian adat perkawinan masyarakat Sulawesi utara


pada masyarakat Gorontalo. Dalam upacara perkawinan, suku bangsa Gorontalo memiliki pakaian adat upacara perkawinan yang dinamakan urasipungu yang terdiri dari kebaya pengantin perempuan terbuat dari kain saten dan diberi hiasan perak sepuhan.

Sementara pengantin laki-laki mengenakan pakaian semacam kemeja kurung dari bahan yang sama dengan pengantin perempuan yang disebut kimunu. Kedua mempelai juga memakai kain sarung yang terbuat dari satin. Selain itu pelengkap berikutnya dalah Paluala yang berfungsi sebagai penutup kepala pengantin wanita yang terbuat dari kain satin dengan hiasan sunting atau biliu yang terbuat dari perak. Hiasan lainnya adalah kecubu, kain beludru dengan hiasan perak yang digantungkan pada leher pengantin wanita.

Dalam upacara perkawinan suku Bolaang Mangondow, pengantin wanita memakai sunting; semacam hiasan sanggul yang bahannya terdiri dari emas. Di dahi pengantin memakai hiasan yang disebut logis yang terbuat dari benang hitam.

sedangkan pakaian adat Sangihe Talaud yang secara umum, pakaian upacara perkawinan mereka hampir sama dengan upacara-upacara adat lainnya seperti perayaan hari raya “Mohobing Datu”, penasbihan tukang besi, hari-hari istimewa dan para penari.

jadi Sulawesi termasuk salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki ragam pakaia adat yang di pakai oleh masing-masing etnis

Demikian penjelasan lengkap mengenai macam-macam jenis “Nama Pakaian Adat Sulawesi Utara Pria Wanita dan Penjelasan lengkap” semoga dapat bermanfaat, terima kasih untuk kunjungan ke blog BukanTrik. Silahkan baca juga artikel terkait lainnya

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan sopan

 
Top